Pengalaman di Jepang


Berhubung lumayan panjang e-mailnya ( bagi saya ) dan butuh waktu untuk bisa menuliskannya (duuh…mendramatisir bangett…). Jadi sayang kalau tidak disimpan di sini. Supaya tidak perlu menulis lagi untuk cerita yang sama. Selamat menikmati…

Assalamualaikum wr.wb.
 
Akhirnya saya harus memaksakan diri untuk menulis e-mail ini. Saat ini saya masih di Nagoya. Manusia hanya bisa berencana, tapi ternyata Allah berkehendak lain. Rencananya kami akan pulang ke Indonesia sejak tgl 4 April lalu, tapi terpaksa kami tunda karena kondisi Ariq-putra ke-4 kami harus dirawat inap di RS. Alhamdulillah 4 hari kemudian sudah diizinkan pulang oleh dokter. Setelah kontrol kembali ke RS dan dokter menyatakan sudah sembuh kami pesan tiket kembali untuk tgl 11 April. Hari Jumat memang saya sudah berencana untuk ke dokter anak terakhir kali sebelum pulang, sekalian periksa Ariq yg malamnya ’sedikit’ batuk. Awalnya saya bimbang apakah ke dokter anak langganan kami atau sekalian ke RS tempat Ariq nyuin sebelumnya. Akhirnya diputuskan untuk periksa ke RS. Sungguh saya tidak berencana untuk opname lagi. Tapi sampai di ruang dokter, saat memeriksa dokter langsung menampakan wajah cemas dan menyarankan utk opname kembali. Saya pikir Ariq paling hanya kaze biasa atau sisa-sisa batuk dari pneumonianya jadi saya minta bagaimana kalau diberi obat saja, karena besok kami sudah berencana pulang. Dokter bilang kalau Ariq terserang Asma. Saat ini mungkin masih terlihat biasa, tapi malam akan menjadi parah (ternyata benar, menjelang malam napas Ariq seperti tinggal satu-satu…meskipun perawat menyarankan saya utk rileks supaya saya tidak lelah, tapi saya tidak bisa melepaskan mata untuk melihat naik turunnya napas Ariq). Kalau dipaksakan naik pesawat akan berbahaya karena kondisinya yg sulit utk menghirup oksigen. Akhirnya saya menyerah demi kebaikan Ariq. Tiket pesawat saat itu juga langsung dibatalkan. Duuh….inginnya menangis sungguuuuh…tapi berhubung ada Rahma yg kebetulan menyusul ke RS, jadi air mata ini dipaksa jangan sampai berlinang. Alhamdulillah hari itu banyak yg membantu. (Rini dan Rahma terimakasih ya….sudah menemani dan membantu persiapan masuk RS, juga Mba Ratih sudah dititipi Azka- Aufa beberapa hari. terima kasih juga utk T’Nining, M’Ayu & M’Rasti, & Ambi sudah jadi tim konsumsi ^-^). Dokter memperkirakan mungkin sama seperti opname yg lalu ‘hanya perlu’ 3-4 hari saja. Alhamdulillah hari Senin tgl 13 sudah boleh pulang. Hari selasa diminta kontrol lagi, Baru menyingkap baju Ariq dan melihat kondisi dada (atau perut?) Dokter dengan wajah ceria langsung bilang (yoku natta ne…, sugoku raku natta ne…). Padahal menurut kasat mata saya tidak ada bedanya dengan saat hari divonis utk nyuin 4 hari yg lalu. Dokter membekali segepok obat-obatan, dan memberikan izin untuk pulang SEGERA. Karena khawatir dari tes alergen semua negatif mungkin pergantian musim di jepang saat ini yg jadi pemicu asmanya. Hari ini kami pesan tiket kembali. Alhamdulillah kami dapat tiket untuk besok hari kamis.
 
  Ibu-ibu, mbak-mbak, juga adik-adik, maaf maksud utama menulis imel ini untuk pamitan sebenarnya (kenapa jadi cerpen?). Insya Allah besok kami akan kembali ke Indonesia. Mohon doanya perjalanan kami lancar dan selamat sampai tujuan. Terima kasih atas kehangatan dan keakraban selama kami tinggal di Nagoya, sampai tidak terasa kalau hampir 9 tahun kami tinggal di sini. Terima kasih sudah berbagi suka dan duka, berbagi ilmu, berbagi cerita, membuat saya serasa menemukan keluarga besar di sini. Terima kasih juga atas segala perhatian, bantuan, dukungan juga doa semuanya yg tidak bisa saya sebutkan satu persatu selama Ariq di RS.
 
Selain itu saya juga menyadari, mungkin dalam canda saya, dalam obrolan, dalam sikap saya selama ini pasti ada yang ternyata menyinggung ataupun menyakiti hati atau ada kesalahan-kesalahan saya yang lain, saya mohon bukakan pintu maaf yang selebar-lebarnya. Terakhir kalau ada hutang janji, mohon diikhlaskan. Kalau ada hutang materi, silahkan tagih ke suami saya, beliau masih ada proyek yang harus dikerjakan di sini (jadi juara I lomba masak :P ) jadi insya Allah akan kembali lagi ke Nagoya. Maaf belum terakhir ternyata…mohon maaf kalau akhir-akhir ini terutama saat di RS, ada telpon yg tidak diangkat, atau sms yg tidak terbalas mohon maaaf…sungguh saya tidak bermaksud mengabaikannya, semua semata-mata karena kondisi Ariq yg sdg perlu perhatian, kondisi di RS yg tidak bebas menelpon, juga karena ketidakcakapan saya dalam packing jadi ga beres-beres sampai sekarang. Terakhir (beneran ini  terakhir…), Relakanlah kami kembali ke tanah air….Karena sudah 2 kali rencana kami dibatalkan (ge-er mode on).
 
Wassalamualaikum Wr.Wb.
 
Nunun dan 5 A (Azka, Aufa, Athif, Ariq dan Ayahnya)
 

 

nyuin : opname

kaze : flu

yoku natta ne : sudah membaik ya…

sugokku raku natta ne : benar-benar sudah lebih enakan /lega(?)

Diam-diam saya kagum dengan mereka. Mereka anak-anak muslim Indonesia khususnya termasuk Azka-Aufa. Dibalik kepolosan, keceriaan, juga kehebohan  khas anak-anak, mereka berani berbeda ditengah teman-teman sekolahnya.

Secara fisik,  warna kulit Azka-Aufa lebih gelap dibanding teman-temannya. Meskipun saat musim panas anak-anak Jepangpun menjadi hampir sama warna kulitnya karena terbakar sinar matahari. Besarnya mata pun berbeda. Anak-anak Indonesia relatif lebih besar. Untungnya mata besar disukai oleh orang-orang Jepang, apalagi bayi atau anak-anak yg lebih kecil. Obaasan yg mengomentari Athif atau Ariq saat bertemu, seringnya bilang,” Me ga ookii nee…kawaiii..”(Matanya besar ya…lucuu…). Untunglah di  Shougakko  (SD) Azka-Aufa tidak pernah mengalami ijime  karena perbedaan fisik ini.

Secara keyakinan, agama mereka berbeda. Dan ini merembet ke masalah makanan. Sejak di hoikuen makanan Azka-Aufa berbeda dengan teman-temannya. Tapi Alhamdulillah, anak-anak tidak pernah protes karena perbedaan ini. Paling-paling mereka protes kalau masakan yang saya buat rasanya aneh buat mereka. Sampai sekarang di Shougakko, makan siang mereka lebih sering berbeda. Karena hampir tiap hari dalam menunya terselip bahan dari daging babi. Jadi hampir tiap hari saya membuatkan bento yang saya usahakan mirip dengan makan siang di sekolah. Kalau tidak bisa, saya buatkan masakan yang memang disukai Azka-Aufa. Supaya tidak ada kesempatan buat mereka untuk protes hehehe…

Di bulan Ramadhan ini, lebih jelas lagi kalau mereka berbeda. Pada jam makan siang, atas permintan kami, Azka-Aufa dipisahkan ke ruangan lain sementara teman-teman sekelasnya makan siang. Tentunya sebelumnya kami sudah mengkondisikan Azka-Aufa beberapa minggu sebelum masuk bulan Ramadhan. Tahun ini adalah tahun ketiga Azka berpuasa di Shougakko. Jadi Azka sudah terbiasa dengan kondisi tersebut. Untuk Aufa, sebenarnya saya tidak mentargetnya harus berpuasa penuh mengingat Aufa baru berusia 6 tahun. Tapi karena hari pertama puasa Aufa terlihat kuat berpuasa penuh, akhirnya Alhamdulillah sampai hari ke 19 ini belum pernah batal.

Satu lagi, saya satu-satunya ibu yang berpakaian berbeda di sekolah Azka-Aufa sejak Hoikuen sampai Shougakko. Alhamdulillah, anak-anak tidak pernah terlihat minder meskipun teman-temannya sering bertanya kenapa saya berpakaian seperti ini, kenapa kepala saya selalu tertutup. Pernah sewaktu masih di Hoikuen saya menggoda Azka-Aufa.  Saat saya siap mengantar anak-anak ke hoikuen, saya sengaja tidak memakai kerudung. Azka-Aufa malah terbengong-bengong di genkan  (pintu masuk) melihat saya tidak berkerudung. Azka-Aufa malah tidak mau berangkat sebelum saya memakai kerudung. Alhamdulillah…..somoga keberanian mereka tetap istiqomah sampai dewasa nanti. Amiin…..

Mataniti maaku atau maternity mark sepertinya baru diluncurkan tahun ini. Maternity mark ini bisa didapatkan di kuyakusho sewaktu menyerahkan surat keterangan dokter untuk mendapatkan boshi kenkou techo atau buku perkembangan kesehatan untuk ibu hamil dan anak.

Maternity mark ini dimaksudkan untuk memberikan tanda bagi ibu hamil (ya iyalah…!). Dengan adanya tanda ini, ibu hamil mendapatkan prioritas tempat duduk di kendaraan umum sama seperti orangtua, orang cacat, ataupun yang membawa anak kecil. Sebenarnya prioritas untuk ibu hamil sudah ada sejak lama. Tapi dari gambarnya hanya untuk yang sudah hamil tua yang sudah terlihat buncit perutnya. Dengan adanya tanda ini, ibu hamil yang masih muda, yang umumnya mengalami tsuwari (mabuk saat hamil muda) dan secara fisik belum terlihat seperti orang hamil, bisa juga mendapatkan prioritas yang sama.

Bagi saya tanda ini bermanfaat sekali. Pengalaman waktu hamil anak ke-tiga, kalau naik bis terutama, yang selalu bersaing dengan obaasan dan ojiisan, saya sering dilema antara memberikan tempat duduk untuk ojiisan-obaasan tersebut padahal saya sedang tsuwari, tidak kuat berdiri lama. Atau tetap duduk, tapi terus-terus diliatin obaasan yang mungkin menganggap saya wagamama. Tapi dengan adanya tanda ini saya bisa duduk dengan tenang. Meskipun begitu, dalam kondisi darurat, saat semua tempat duduk penuh, dan kebetulan ada obaasan atau ojiisan yang sudah sangat uzur dan kebetulan berdiri di samping tempat duduk saya, ya tetaplah saya tidak tega dan tidak nyaman untuk terus menikmati duduk saya.

Sayangnya, mungkin karena kebijakan baru dan belum semua mengetahuinya atau mungkin tanda itu terlalu kecil untuk bisa dilihat orang, jadi pada saat jam-jam kereta atau bis penuh, ya tetap saja kita harus tahan untuk berdiri. Atau mungkin, ada yg melihat tapi mereka juga sedang capek-capeknya dan ingin duduk juga. 

Tanda yang saya punya sebesar gantungan kunci yang bisa digantung di tas. Tapi ada juga teman yang mendapatkannya berupa stiker kecil sebesar koin 1 yen, yang bisa ditempel di tas. Kecil sekalii, mana ada yang lihaat…

 Kalau melihat tujuan dibuatnya tanda ini,  saya jadi terharu (berhubung saya sedang hamil)…ninsanpu ni yasshii kankyouzukuri (menciptakan lingkungan yang nyaman bagi ibu hamil). Yah meskipun hanya berupa lingkungan fisik, tapi  kebijakan ini harus sangat disyukuri. Tanpa kebijakan ini saja, naik bis dan kereta di jepang sudah sangat-sangat nyaman. Apalagi adanya kebijakan bagi ibu hamil ini. Lebih baik lagi kalau bisa menciptakan lingkungan yang nyaman secara psikologis bagi ibu hamil. Karena hal itu juga sangat berpengaruh bagi perkembangan janin di rahimnya. Hehehe…itu udah beda lagi urusannya ya…Ada lagi tulisan yang tertera di tanda itu yang saya lihat di bis atau kereta yang juga membuat saya terharu, chiisana inochi ni mo yasashiisa wo…Subhanallah…

Sekarang ini, insya Allah 7 minggu lagi menuju ke 40 minggu. Saatnya bayi sudah ‘wajib’ lahir, kemungkinan lebih cepat dari perkiraan. Mataniti maaku yang saya punya sudah tidak akan dipakai lagi. Ada yang mau pinjam??  :-)

Minggu kemarin kami menikmati Golden Week. Disebut Golden Week karena selama seminggu sejak tgl 29 April sampai 5 Mei (kecuali tangal 1 dan 2) di Jepang merupakan hari libur Nasional. Enaknya buat ibu-ibu sepertiku bisa bebas dari masak bento pagi-pagi. Bisa pergi ke sana ke mari sekeluarga. Seperti juga hanami akhir Maret kemarin, Golden Week kali ini sepertinya GW kami yang terakhir, karena insya Allah tahun depan kami akan kembali ke tanah air. Jadi kami tidak sia-siakan kesempatan liburan ini. Ada yang ngajak ke bazaar hayuu,  ke tabligh akbar AA Gym tentu saja mau, bbq-an juga ok. Tapi karena sibuk jalan-jalan, hasilnya beres-beres rumah ngga pernah tuntas. Selain itu cucian baju di rumah jadi ada tiga jenis, cucian yang baru dijemur, cucian yang sedang diaduk di mesin cuci, cucian yang lagi antri buat dicuci. Kalau mau ditambah, masih ada lagi cucian di kamar mandi yang harus dibersihkan dari lumpur dan pasir (karena hari Minggu hujan dan waktu hujan reda anak-anak langusng main di luar). Belum lagi cucian yang selesai dijemur dan belum dilipat. Masih ada lagi ding, yang belum disetrika. Tapi biar begitu tetap menyenangkan kok GW kemarin ….(pssst..kali nggak diajak jalan-jalan lagi)

hanami 

Sebenarnya hari ini acaranya mengajar teman orang Jepang (atau belajar?soalnya beliau cuma mau ngobrol-ngobrol saja ^-^) bahasa Indonesia. Karena Azka masih libur jadi Azka ikut juga. Ternyata kami malah diajak hanami (melihat bunga sakura) di Aichi agriculture research center. Tempatnya luaas sekali. Kami melewati kandang sapi, pembibitan tanaman, kebun buah momo (buah peach?) yang baru kali ini saya lihat bunganya di sekujur tangkainya, tadinya saya kira itu bunga ume. Akhirnya kami berhenti di dekat danau kecil kemudian mencari tempat strategis untuk menikmati bunga sakura sambil makan siang. Tidak banyak orang yang datang untuk ber-hanami di sini. Ternyata beliau memang sengaja dan suka tempat ini karena tidak terlalu ramai.  Sambil makan kami ngobrol macam-macam, tentunya dalam bahasa Indonesia. Sesekali saya membetulkan kalimatnya yang terbalik-balik seperti kalau saya berbicara bahasa Jepang :-) . Azka dan Athif lari-lari ke sana-sini sampai akhirnya menemukan katak kecil di sisa tebangan batang pohon. 

 k

Berhubung waktu Azka ditanya mau naik kuda ngga, dan jawabannya mau. Akhirnya kami diajak ke bokujou (tempat peternakan). Di sini juga tempatnya cukup luas. Selain peternakan kuda, juga ada peternakan sapi dan tempat pengolahan produk sapi. Ada tempat untuk barbeque juga.  Tempat ini dikelola oleh yayasan swasta yang mengelola juga rumah sakit dan panti jompo yang ada di sekitar peternakan ini juga. Sebenarnya tempat ini bagus sekali untuk anak-anak karena ada kegiatan seperti memeras susu sapi, membuat mentega, membuat sosis…tapi karena hari ini bukan jadualnya jadi tadi Azka sudah cukup puas menunggang kuda poni dan bermain di labirin bunga nano. Kyou wa tanoshikatta ne Azka….