Celoteh Aufa


Hari kamis kemarin menjelang sholat ashar, tiba-tiba badan saya menggigil kedinginan meskipun sudah duduk dekat pemanas. Saat sholat Asharpun masih terus menggigil. Saya mulai merasakan tanda-tanda mau pingsan, mata berkunang-kunang dan kepala serasa kosong (belum pernah pingsan sih, tapi waktu SMA pernah seperti ini kalau sedang upacara hari senin). Sampai selesai sholat masih mengigil juga. Tidak sadar air mata sudah menetes dari tadi apalagi saat membayangkan bagaimana anak-anak kalau saya tiba-tiba pingsan (ah mendramatisir…huh!).

Waktunya menjemput Aufa…duh gimana nih kalau sempoyongan di hoikuen terus jatuh. Akhirnya saya telpon hoikuen, lama tidak diangkat, akhirnya setelah telpon ke dua kalinya enchou sensei yang menerima telpon. Saya bilang saya tidak enak badan jadi tidak bisa menjemput Aufa, bagaimana kalau kakaknya yang menjemput?

Sebenarnya dari rumah ke hoikuen jaraknya sangat dekat. Buka pintu langsung terlihat hoiken di seberang jalan, tidak sampai 5 menit untuk sampai ke sana. Tapi meskipun Azka sudah biasa pulang pergi sendiri ke tempat kursus yang jaraknya sama dengan hoikuen bahkan sering juga main di sekitar hoikuen dengan temannya, tapi mungkin aturannya anak sesusia Azka belum diizinkan untuk menjemput adiknya. “kami antar saja ya…” jawaban enchou sensei. Ya sudah dengan senang hati, saya tidak berdaya menolaknya :) . Saya pikir sensei part time atau sensei lain yang bakal nganter ternyata enchou sensei sendiri yang mengantar Aufa sampai rumah. “Terima kasih enchou sensei, maaf merepothkan.” ucap saya sambil masih menggigil dengan muka lebam. “Tidak apa-apa? semoga cepat sembuh ya….”. Enchou sensei langsung kembali ke hoikuen.

Tinggal Aufa yang kebingungan,” bunda…doshita no?”…aah..hitori de kaeru to omotta… (bunda kenapa?…aah…kirain disuruh pulang sendiri) gumam Aufa dengan ekspresi lega. Maaf ya Aufa….

Akhirnya Aufa bisa juga naik sepeda roda dua. Ini cerita ayahnya yang melatih Aufa naik sepeda. Awalnya Aufa ngga PD, bilang ” dekinai…dekinai…(ngga bisa…ngga bisa…). Ternyata tidak perlu waktu lama, Aufa sudah bisa dilepas. Malah langsung menggenjot sepeda dengan cepatnya. Ayahnya mengingatkan supaya jalan pelan-pelan. Aufa malah menimpali sambil tetap memacu sepeda,” Ngga bisaaa kalau ngga ngebuuut…!

Tadinya ngga percaya, tapi  setelah melihat sendiri baru percaya. Dan memang benar ngga bisa pelan jalannya (Padahal sebenarnya belum bisa mengontrol kecepatan sepeda).

Hari Minggu kemarin kami  pulang dari jalan-jalan.  Sudah cukup larut dan angin bertiup cukup kencang. Lumayan dingin jadinya. Kami duduk di halte menunggu bis datang. Sambil mengisi waktu, saya main tebak-tebakan sama Azka Aufa. ” …ju tasu ju wa…” “niju!” Azka yang jawab. ” ju tasu san wa…” “jusan!” Lagi-lagi Azka yang jawab. Jadi ganti pertanyaan. “Aufa…ichi tasu ichi wa…”. “ni!” Akhirnya dijawab Aufa juga. Saya tanya Aufa lagi, ” ni tasu ichi wa…”. ” san! kantan da yo…” Hehehe…emang gampang itu mah. Coba kalau ini bisa ngga, ” ni tasu san wa…”. Aufa diam saja. Karena dingin tangannya disembunyikan di kantong jaketnya. Agak lama dijawab juga, ” go da yo..”. Saya nyeletuk “Hee…doshite shiteruno??”    Ngga nyangka soalnya ^-^. ” Datte sa…gonin kazoku da yo…ni tasu san wa go desu yo ( ngitung sambil nunjuk kita satu persatu). Aufa memasukkan lagi tangannya ke sakunya. Bis belum dateng juga. Saya tanya Aufa lagi, ” ja..go tasu go wa”. Aufa diam lagi agak lama. Kepalanya sedikit mengangguk-angguk. ” ju!…”. ” Hee…sugooi….doshite shiteruno?” Lagi-lagi saya ngga percaya.  Akhirnya Aufa mengeluarkan tangan yang disembunyikannya dan menunjukkan ke sepuluh jarinya, ” Datte sa go tasu go wa ju da yo!”.  Woo…ngitung pake jari juga toh….

  •  
    • ju tasu ju= sepuluh tambah sepuluh
    • ju tasu san = sepuluh tambah tiga
    • ichi tasu ichi = satu tambah satu
    • ni tasu ichi = dua tambah satu
    •  Doshite shiteruno = lho kok tahu?
    • Datte sa gonin kazoku = soalnya kan keluarga kita lima orang

Waktu mandi sepertinya waktu yang tidak disukai anak-anak apalagi musim dingin begini. Pasti ada tawar-menawar dulu sebelumnya meskipun waktunya sudah disepakati.  Biasanya setengah jam sebelum maghrib ( tergantung musim), anak-anak mulai mandi. Karena Aufa masih di hoikuen, biasanya kalau saya jemput , Aufa sedang main pasir atau perosotan dan pastinya bajunya jadi dekil atau kalau tidak baunya sudah bau segala rupa. Jadi biasanya Aufa yang dapat giliran pertama mandi.

Mungkin karena sedang asik-asiknya main dengan kakaknya, ajakan untuk mandi dismbut dengan rengekan Aufa, ” Eee…chotto matte…”. “ya, udah 5 menit lagi ya…kalau jarum panjang udah di angka 12, Aufa mandi ya…” Saya mengalah. Lima menit kemudian, ” Eeee…mada asobitai yoo…”. Akhirnya, ” Bunda hitung sampai sepuluh ya…”. Aufa malah nyahut, ” hayai yoo….hyaku made…” . ???!!!!