Diam-diam saya kagum dengan mereka. Mereka anak-anak muslim Indonesia khususnya termasuk Azka-Aufa. Dibalik kepolosan, keceriaan, juga kehebohan khas anak-anak, mereka berani berbeda ditengah teman-teman sekolahnya.
Secara fisik, warna kulit Azka-Aufa lebih gelap dibanding teman-temannya. Meskipun saat musim panas anak-anak Jepangpun menjadi hampir sama warna kulitnya karena terbakar sinar matahari. Besarnya mata pun berbeda. Anak-anak Indonesia relatif lebih besar. Untungnya mata besar disukai oleh orang-orang Jepang, apalagi bayi atau anak-anak yg lebih kecil. Obaasan yg mengomentari Athif atau Ariq saat bertemu, seringnya bilang,” Me ga ookii nee…kawaiii..”(Matanya besar ya…lucuu…). Untunglah di Shougakko (SD) Azka-Aufa tidak pernah mengalami ijime karena perbedaan fisik ini.
Secara keyakinan, agama mereka berbeda. Dan ini merembet ke masalah makanan. Sejak di hoikuen makanan Azka-Aufa berbeda dengan teman-temannya. Tapi Alhamdulillah, anak-anak tidak pernah protes karena perbedaan ini. Paling-paling mereka protes kalau masakan yang saya buat rasanya aneh buat mereka. Sampai sekarang di Shougakko, makan siang mereka lebih sering berbeda. Karena hampir tiap hari dalam menunya terselip bahan dari daging babi. Jadi hampir tiap hari saya membuatkan bento yang saya usahakan mirip dengan makan siang di sekolah. Kalau tidak bisa, saya buatkan masakan yang memang disukai Azka-Aufa. Supaya tidak ada kesempatan buat mereka untuk protes hehehe…
Di bulan Ramadhan ini, lebih jelas lagi kalau mereka berbeda. Pada jam makan siang, atas permintan kami, Azka-Aufa dipisahkan ke ruangan lain sementara teman-teman sekelasnya makan siang. Tentunya sebelumnya kami sudah mengkondisikan Azka-Aufa beberapa minggu sebelum masuk bulan Ramadhan. Tahun ini adalah tahun ketiga Azka berpuasa di Shougakko. Jadi Azka sudah terbiasa dengan kondisi tersebut. Untuk Aufa, sebenarnya saya tidak mentargetnya harus berpuasa penuh mengingat Aufa baru berusia 6 tahun. Tapi karena hari pertama puasa Aufa terlihat kuat berpuasa penuh, akhirnya Alhamdulillah sampai hari ke 19 ini belum pernah batal.
Satu lagi, saya satu-satunya ibu yang berpakaian berbeda di sekolah Azka-Aufa sejak Hoikuen sampai Shougakko. Alhamdulillah, anak-anak tidak pernah terlihat minder meskipun teman-temannya sering bertanya kenapa saya berpakaian seperti ini, kenapa kepala saya selalu tertutup. Pernah sewaktu masih di Hoikuen saya menggoda Azka-Aufa. Saat saya siap mengantar anak-anak ke hoikuen, saya sengaja tidak memakai kerudung. Azka-Aufa malah terbengong-bengong di genkan (pintu masuk) melihat saya tidak berkerudung. Azka-Aufa malah tidak mau berangkat sebelum saya memakai kerudung. Alhamdulillah…..somoga keberanian mereka tetap istiqomah sampai dewasa nanti. Amiin…..
September 19, 2008 at 10:30 pm
Hi