November 2007


Hari kamis kemarin menjelang sholat ashar, tiba-tiba badan saya menggigil kedinginan meskipun sudah duduk dekat pemanas. Saat sholat Asharpun masih terus menggigil. Saya mulai merasakan tanda-tanda mau pingsan, mata berkunang-kunang dan kepala serasa kosong (belum pernah pingsan sih, tapi waktu SMA pernah seperti ini kalau sedang upacara hari senin). Sampai selesai sholat masih mengigil juga. Tidak sadar air mata sudah menetes dari tadi apalagi saat membayangkan bagaimana anak-anak kalau saya tiba-tiba pingsan (ah mendramatisir…huh!).

Waktunya menjemput Aufa…duh gimana nih kalau sempoyongan di hoikuen terus jatuh. Akhirnya saya telpon hoikuen, lama tidak diangkat, akhirnya setelah telpon ke dua kalinya enchou sensei yang menerima telpon. Saya bilang saya tidak enak badan jadi tidak bisa menjemput Aufa, bagaimana kalau kakaknya yang menjemput?

Sebenarnya dari rumah ke hoikuen jaraknya sangat dekat. Buka pintu langsung terlihat hoiken di seberang jalan, tidak sampai 5 menit untuk sampai ke sana. Tapi meskipun Azka sudah biasa pulang pergi sendiri ke tempat kursus yang jaraknya sama dengan hoikuen bahkan sering juga main di sekitar hoikuen dengan temannya, tapi mungkin aturannya anak sesusia Azka belum diizinkan untuk menjemput adiknya. “kami antar saja ya…” jawaban enchou sensei. Ya sudah dengan senang hati, saya tidak berdaya menolaknya :) . Saya pikir sensei part time atau sensei lain yang bakal nganter ternyata enchou sensei sendiri yang mengantar Aufa sampai rumah. “Terima kasih enchou sensei, maaf merepothkan.” ucap saya sambil masih menggigil dengan muka lebam. “Tidak apa-apa? semoga cepat sembuh ya….”. Enchou sensei langsung kembali ke hoikuen.

Tinggal Aufa yang kebingungan,” bunda…doshita no?”…aah..hitori de kaeru to omotta… (bunda kenapa?…aah…kirain disuruh pulang sendiri) gumam Aufa dengan ekspresi lega. Maaf ya Aufa….

Makan kue yang enak itu dimakan dari pinggirnya dulu. Kalau sudah habis semua pinggirnya simpan di meja terus ambil lagi kue yang baru.

 Kalau Athif lagi sehat sih gak apa-apa. Tapi kalau lagi influenza…mubadzir dek….Bunda ngga berani ngabisin. Kakak sama onichan apalagi, biar Athif lagi sehat, kalau kue bekas gigitan Athif gini gak akan mau….

Judul yg sekarang baru nyambung dengan isinya. Sebenarnya sejak bulan Juli lalu pengen nulis tentang ini. Tapi terpaksa disimpan dulu dalam hati. Ehm…waktu itu saya terharu dengan isi email seorang teman yang salah satu baris kalimatnya mendoakan saya yg sedang dianugrahi amanah lagi. Bagaimana tidak terharu, waktu itu saya sedang payah-payahnya mabuk karena hamil muda. Orang Jepang menyebutnya Tsuwari. Semua jenis makanan tidak ada yg bisa mengugah nafsu makan saya. Seandainya adapun paling hanya sebatas keinginan, setelah di depan mata tetap saja susah masuk ke tenggorokan. Satu-satunya yg bisa sedikit mengobati rasa mual yaitu lemon tea (sekarang sudah tidak terlalu suka, tapi jadinya Athif yg tergila-gila dengan lemon tea). Yang lainnya saya paksakan makan meskipun cuma sedikit. Jadi wajar kalau selama 4 bulan pertama berat badan saya bisa turun sampai 5 kg. Ups…sebenarnya saya tidak berniat menceritakan kehamilan saya. Sesuai judul saya mau menulis tentang amanah. Kembali lagi ke teman yg mendoakan saya tadi, beliau sendiri sebenarnya punya amanah juga, yang bagi saya berat untuk menjalaninya, amanah sebagai seorang pelajar. Ya..setiap orang punya amanah masing-masing, yang Allah bebankan kepada setiap orang sesuai dengan kesanggupannya. Saya jadi teringat seoarang teman yang baru saja kehilangan ‘amanah’ yang baru beberapa minggu dikandungnya. Tapi bagi saya ini rahasia Allah, bukan berarti beliau dianggap belum sanggup atau belum dipercaya. Biasanya orang Indonesia, orang Sunda mungkin tepatnya, sering mengatakan “teu acan dipercanten” (belum dipercaya) kalau ada yang belum juga diberi momongan. Lagi pula sudah diberi ‘amanah’ ataupun belum, dua-duanya ada ujian didalamnya. Perlu rasa syukur dan sabar juga dua-duanya. Kalau kasus saya yang belum diamanahi anak perempuan :) , apakah berarti saya belum dipercaya untuk mendapat anak perempuan. Mungkin saya lebih pas jadi wanita perkasa dibalik suksesnya laki-laki hehehe….

Bersyukurlah bagi mereka yang dianugrahi amanah sesuai dengan harapannya. Ingin cepat punya momongan, bisa cepat punya momongan. Ingin meneruskan sekolah sampai S3 bisa terlaksana. Ingin bekerja sesuai ilmu yang ditekuni bisa tercapai.

Tetapi amanah tetap amanah, semuanya adalah titipan dari Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban-Nya. Sudahkah amanah ini kita jaga atau kita jalankan sesuai dengan tuntunan-Nya. Glukk….kalau sudah ingat ini, amanah ternyata sesuatu yang sangat beratt, bukan sesuatu yang pantas kita bangga-banggakan.

Hmm…sudah lama ternyata  ngga pernah nulis di blog lagi. Sejak memproklamirkan diri kalau sedang mabuk berat, awal Juni tepatnya mungkin ya…lupaa, karena terlalu lamanya. Padahal sejak pertengahan Agustus, alhamdulillah sedikit demi sedikit rasa mual sudah hilang, nafsu makan pulih lagi. Tapi ritme biologis masih belum berubah.  Waktu tidur masih bersaing dengan waktu tidur Athif. 

Banyak sekali sebenarnya cerita yang sayang untuk tidak ditulis, celoteh anak-anak terutama. Jadi…harap maklum kalau yang ditulis sekarang ceritanya waktu musim panas yang sudah berlalu. Sekarang mau istirahat dulu ah…cuma mau pemanasan nulis.  Mumpung ada yang nemenin Athif tidur. Tapi ternyata mata masih belum bisa diajak kompromi untuk begadang, zzzzz……..