March 2007


Ini ketiga kalinya saya menyapih anak. Mungkin hal yang mudah sebenarnya tapi beraaat sekali rasanya. Apalagi pada hari-hari pertama. Saya dan Athif sama-sama berurai air mata, ’saling menyakiti’ kata seorang teman yang baru pertama kali menyapih anaknya . Meskipun sudah jauh hari sebelumnya Athif diberitahu kalau sudah 2 tahun sudah tidak nenen lagi dan secara bertahap mengurangi jadual menyusuinya. Meskipun saya sudah memantapkan hati akan menyapih Athif saat genap berusia 2 tahun. Bagaimana tidak,  selama 2 tahun kami menjadi dekat dengan aktivitas ini. Masih terbayang mata jernihnya saat menyusui berkedip-kedip memandang sampai perlahan-lahan mata itu menjadi redup dan akhirnya tertidur pulas. Saat menyusui sebenarnya bisa menjadi saat istirahat juga disela-sela urusan rumah. Bisa sambil menyenandungkan lagu, surat-surat pendek, mengenalkan anggota badannya, bercerita atau akhirnya sama-sama tertidurr….Dengan menyusui juga tangisan bisa segera diredakan, kerewelan anak bisa segera dihentikan, menidurkan anak bisa lebih mudah, masalah jadi cepat selesai, makanya tidak heran ada ibu yang masih tetap menyusui (?) anaknya sampai lewat 3 tahun karena alasan tadi.

Kalau gitu nanti saja disapihnya. Itu juga bukan ide yang baik. Yang saya tahu di Al Quran tersurat kalau menyusui sampai 2 tahun itu sudah dikatakan sempurna. Dari segi kesehatan, kualitas ASI saat anak usia 2 tahun sudah berkurang. Dari sudut psikologi juga bisa menimbulkan “ketergantungan yang tidak sehat”.  Seperti Ibu yang tetap membiarkan anaknya tidak disapih sampai lewat 3 tahun tadi. Yang jelas semakin besar anak semakin sulit menyapihnya.  Ya sud..kalau begitu kenapa harus merasa berat doong…….Sebenarnya…cuma ingin dimengerti saja kok  ^o^  kalau menyapih itu butuh pengorbanan dan keteguhan hati.. (huek..huek…)

Alhamdulillah sudah sebulan berlalu…Athif sudah mulai bisa tidur nyenyak tanpa terjaga di malam hari. Ini baru tahap awal melepasnya menuju kemandirian.  Masih ada saat-saat ‘menyedihkan’ lain yang meskipun berat tapi harus dilalui. Saat hari pertama pergi sekolah…saat harus sekolah di tempat jauh seperti Ayahnya….saat menikah nanti….

Satu saja harapan bunda (yang ditulis di sini),  semoga menjadi anak-anak yang shaleh…….

Kebetulan ada yang bertanya seperti judul di atas yang sebenernya sudah lama ingin saya tulis. Hoikuen kalau di Indonesia semacam tempat penitipan anak. Bedanya dengan di sini, anak-anak yang bisa ’sekolah’ di hoikuen dari usia 3 bulan sampai 6 tahun (per 1 April, jadi kalau umur 6 tahunnya tgl 2 April masih bisa menikmati hidup di hoikuen. Soalnya di SD nya juga ngga bakalan diterima). Syaratnya Anak bisa diterima di sini kalau ibunya punya aktivitas di luar rumah minimal 4 hari dalam seminggu dan minimal sehari selama 4 jam. Urusan pendaftarannya juga tidak langsung ke hoikuen, tapi ke kuyakusho ( kantor kecamatan) bagian kesejahteraan anak. Beda dengan Youchien (TK), pendaftaran langsung ke TK yg kita inginkan. Sama seperti di Indonesia, pendaftaran sebaiknya dilakukan jauh bulan sebelumnya. Kalau di sini tahun ajaran dimulai bulan April, berarti sekitar bulan November sudah harus siap-siap. Kalau tidak nasibnya seperti kami yang akhirnya gigit jari. Tadinya kami berniat memindahkan Aufa dari Hoikuen ke Youchien. Tapi karena baru bulan Februari ini diputuskan jadinya begini….

Memang belajar apa ya di hoikuen…..?Kalau dikatakan belajar, tidak pernah ada istilah belajar di hoikuen. Yang ada hanya bermain dan bermain meskipun sudah masuk usia TK. Informasi dari teman yang memasukkan anaknya ke Youchien, di Youchienpun sama seperti di hoikuen hanya bermain dan bermain.  Yang saya maksud istilah belajar tidak ada di hoikuen, kata belajar seingat saya tidak pernah diucapkan oleh guru hoikuen kepada anak-anak, seperti ” ayo anak-anak sekarang kita belajar membuat bunga dari kertas”.  Tapi yang dikatakan guru, ” ayo kita bermain origami”. Contoh lain saat mengajarkan anak membuang sampah  yang benar ( apakah termasuk sampah terbakar, tidak terbakar, atau sampah daur ulang), guru mengajak anak bermain kuis membuang sampah.  Barulah pada saat menjelang sotsuen (wisuda TK), guru memberikan semangat ke anak-anak antara lain dengan, ” Ichi nensei ni nattara iroirona koto o benkyou suru yo” (Kalau sudah kelas satu nanti akan belajar macam-macam lho…)

Yang menarik, acara anak-anak di NHK , meskipun isinya tentang belajar (tapi tetap menarik anak-anak) tapi judulnya tetap bermain. Seperti Eigo de asoboo (Ayo bermain bahasa Inggris), Nihonggo de asoboo (Ayo bermain bahasa Jepang), Karada de asoboo (ayo bermain badan? ^-^…).  Karena acaranya cukup menarik anak-anak jadi merasa tidak sedang  belajar waktu menonton acara itu.