February 2007


Waktu mandi sepertinya waktu yang tidak disukai anak-anak apalagi musim dingin begini. Pasti ada tawar-menawar dulu sebelumnya meskipun waktunya sudah disepakati.  Biasanya setengah jam sebelum maghrib ( tergantung musim), anak-anak mulai mandi. Karena Aufa masih di hoikuen, biasanya kalau saya jemput , Aufa sedang main pasir atau perosotan dan pastinya bajunya jadi dekil atau kalau tidak baunya sudah bau segala rupa. Jadi biasanya Aufa yang dapat giliran pertama mandi.

Mungkin karena sedang asik-asiknya main dengan kakaknya, ajakan untuk mandi dismbut dengan rengekan Aufa, ” Eee…chotto matte…”. “ya, udah 5 menit lagi ya…kalau jarum panjang udah di angka 12, Aufa mandi ya…” Saya mengalah. Lima menit kemudian, ” Eeee…mada asobitai yoo…”. Akhirnya, ” Bunda hitung sampai sepuluh ya…”. Aufa malah nyahut, ” hayai yoo….hyaku made…” . ???!!!!

Hari Jumat Azka ada tugas membawa kardus berukuran besar ke sekolah. Alhamdulillah beberapa kardus bekas kiriman daging beku halal  belum dibuang dan salah satu dari kardus itu yang dipilih Azka yang berukuran sedang. “Kore no hoo ga ii…” katanya. Akhirnya Azka berangkat. Cukup repot juga melihatnya membawa kardus yg cukup besar untuk ukurannya belum tas jinjing berisi bekal makan siangnya plus tas ransel yg lumayan berat. Sewaktu membuka pintu rumah ternyata hujan gerimis turun. Hmmm…kalau saya jadi Azka lebih baik kardus itu saya tinggalkan. Toh tugas yg tertulis di buku penghubung itu membawa kardus berukuran besar kalau ada. Jadi kalau ngga ada pun ngga apa-apa. Tapi pikiran itu cuma disimpan dalam hati melihat semangatnya. Akhirnya saya cari kantong plastik berukuran besar yg cukup memuat kardus itu sekalian tas bekal makan siangnya. Waah…jadi tambah repot karena harus bawa payung juga. Kebayang repotnya bawa bawaan seperti itu di tengah hujan dan harus berjalan kaki  ke sekolahnya lebih dari 500 meter ( jalannya naik turun lagi). Kalau boleh diantar, inginnya saya antar paling tidak membawakan bawaannya sampai gerbang sekolah. Tapi di sini anak-anak SD kalau pergi dan pulang sekolah harus berjalan kaki bersama-sama dengan kelompoknya. Kelompoknya ini ditentukan dari sekolah, yaitu anak-anak yg rumahnya berdekatan. Setiap kelompok ada ketuanya dari kelas yg paling senior diantara anak-anak yang lain. Ketuanya ini waktu awal-awal tahun ajaran selalu menjemput ke rumah kalau pada waktu yang ditentukan belum kumpul juga. Biasanya jam 7.50 anak-anak satu kelompok  sudah kumpul kemudian berbaris dan berangkat bersama-sama ke sekolah.

Kembali ke cerita kardus tadi. Waktu jam pulang sekolah Azka, kebetulan saya sedang nyebokin (maaf…) Athif di WC yg letaknya dekat dengan pintu masuk rumah. Dong!!dong!!dong!!…seperti biasa Azka mengetuk pintu rumah dg keras (biar kedengaran bunda…alasanya). Saya putar kunci rumah dan meneruskan nyebokin (maaf lagi…) Athif karena belum selesai dan khawatir Athif terpeleset. Lho! kok belum masuk juga….Ooh hari ini kan hari Jumat. Biasanya kalau hari Jumat bawaannya banyak karena akhir pekan,  jadi semua barang seperti sepatu untuk di ruangan, baju olah raga, kadang-kadang celemek kalau dapet tugas pas makan siang semua dibawa pulang. Ternyata…selain bawaan sendiri kantong plastik besar yg tadi pagi berisi satu kardus, sekarang bertambah jadi 4 kardus dengan ukuran yang lebih besar lagi :-( . “Ii no…” waktu saya sedikit protes. Jangan-jangan dikerjain nih sama temennya. Tapi dari raut wajahnya sama sekali tidak ada tanda-tanda itu. Malah waktu Aufa datang dengan riangnya main rumah-rumahan dengan kardus itu.