1.”Gunawaaaan sonoooo…..” (Bengawan Solo ^-^) . Karena sering mengamati ayah latihan angklung yang salah satu lagunya Bengawan Solo.

2. Akhir-akhir ini Athif seneng “nonton lagu” (Istilah Athif kalau dengar lagu) VCD kenang-kenangan dari Tika-chan. Isinya lagu-lagu anak. Salah satu lagunya yaitu panjang umurnya. Tapi berhubung Athif sering lihat teman-teman kakak potong kue ultah sambil nyanyi panjang umur. Jadilah lagu, “Potong umurnya…potong umurnya…”(hehe..sadis)

3.Masih akibat mendengarkan VCD dari Tika chan. Salah satu lagu yang suka dinyanyikan Athif yaitu  Nina bobo. Tapi dinyanyikan Athif jadi “Nina bobo oninya bobo….” (oni=jin dlm bhs jepang).Eh Aufa ikutan nyanyi juga malah jadi, “Minna bobo oh Minna bobo ” (Minna=semua).Tidur semua dong jadinya….

Mataniti maaku atau maternity mark sepertinya baru diluncurkan tahun ini. Maternity mark ini bisa didapatkan di kuyakusho sewaktu menyerahkan surat keterangan dokter untuk mendapatkan boshi kenkou techo atau buku perkembangan kesehatan untuk ibu hamil dan anak.

Maternity mark ini dimaksudkan untuk memberikan tanda bagi ibu hamil (ya iyalah…!). Dengan adanya tanda ini, ibu hamil mendapatkan prioritas tempat duduk di kendaraan umum sama seperti orangtua, orang cacat, ataupun yang membawa anak kecil. Sebenarnya prioritas untuk ibu hamil sudah ada sejak lama. Tapi dari gambarnya hanya untuk yang sudah hamil tua yang sudah terlihat buncit perutnya. Dengan adanya tanda ini, ibu hamil yang masih muda, yang umumnya mengalami tsuwari (mabuk saat hamil muda) dan secara fisik belum terlihat seperti orang hamil, bisa juga mendapatkan prioritas yang sama.

Bagi saya tanda ini bermanfaat sekali. Pengalaman waktu hamil anak ke-tiga, kalau naik bis terutama, yang selalu bersaing dengan obaasan dan ojiisan, saya sering dilema antara memberikan tempat duduk untuk ojiisan-obaasan tersebut padahal saya sedang tsuwari, tidak kuat berdiri lama. Atau tetap duduk, tapi terus-terus diliatin obaasan yang mungkin menganggap saya wagamama. Tapi dengan adanya tanda ini saya bisa duduk dengan tenang. Meskipun begitu, dalam kondisi darurat, saat semua tempat duduk penuh, dan kebetulan ada obaasan atau ojiisan yang sudah sangat uzur dan kebetulan berdiri di samping tempat duduk saya, ya tetaplah saya tidak tega dan tidak nyaman untuk terus menikmati duduk saya.

Sayangnya, mungkin karena kebijakan baru dan belum semua mengetahuinya atau mungkin tanda itu terlalu kecil untuk bisa dilihat orang, jadi pada saat jam-jam kereta atau bis penuh, ya tetap saja kita harus tahan untuk berdiri. Atau mungkin, ada yg melihat tapi mereka juga sedang capek-capeknya dan ingin duduk juga. 

Tanda yang saya punya sebesar gantungan kunci yang bisa digantung di tas. Tapi ada juga teman yang mendapatkannya berupa stiker kecil sebesar koin 1 yen, yang bisa ditempel di tas. Kecil sekalii, mana ada yang lihaat…

 Kalau melihat tujuan dibuatnya tanda ini,  saya jadi terharu (berhubung saya sedang hamil)…ninsanpu ni yasshii kankyouzukuri (menciptakan lingkungan yang nyaman bagi ibu hamil). Yah meskipun hanya berupa lingkungan fisik, tapi  kebijakan ini harus sangat disyukuri. Tanpa kebijakan ini saja, naik bis dan kereta di jepang sudah sangat-sangat nyaman. Apalagi adanya kebijakan bagi ibu hamil ini. Lebih baik lagi kalau bisa menciptakan lingkungan yang nyaman secara psikologis bagi ibu hamil. Karena hal itu juga sangat berpengaruh bagi perkembangan janin di rahimnya. Hehehe…itu udah beda lagi urusannya ya…Ada lagi tulisan yang tertera di tanda itu yang saya lihat di bis atau kereta yang juga membuat saya terharu, chiisana inochi ni mo yasashiisa wo…Subhanallah…

Sekarang ini, insya Allah 7 minggu lagi menuju ke 40 minggu. Saatnya bayi sudah ‘wajib’ lahir, kemungkinan lebih cepat dari perkiraan. Mataniti maaku yang saya punya sudah tidak akan dipakai lagi. Ada yang mau pinjam??  :-)

Hari kamis kemarin menjelang sholat ashar, tiba-tiba badan saya menggigil kedinginan meskipun sudah duduk dekat pemanas. Saat sholat Asharpun masih terus menggigil. Saya mulai merasakan tanda-tanda mau pingsan, mata berkunang-kunang dan kepala serasa kosong (belum pernah pingsan sih, tapi waktu SMA pernah seperti ini kalau sedang upacara hari senin). Sampai selesai sholat masih mengigil juga. Tidak sadar air mata sudah menetes dari tadi apalagi saat membayangkan bagaimana anak-anak kalau saya tiba-tiba pingsan (ah mendramatisir…huh!).

Waktunya menjemput Aufa…duh gimana nih kalau sempoyongan di hoikuen terus jatuh. Akhirnya saya telpon hoikuen, lama tidak diangkat, akhirnya setelah telpon ke dua kalinya enchou sensei yang menerima telpon. Saya bilang saya tidak enak badan jadi tidak bisa menjemput Aufa, bagaimana kalau kakaknya yang menjemput?

Sebenarnya dari rumah ke hoikuen jaraknya sangat dekat. Buka pintu langsung terlihat hoiken di seberang jalan, tidak sampai 5 menit untuk sampai ke sana. Tapi meskipun Azka sudah biasa pulang pergi sendiri ke tempat kursus yang jaraknya sama dengan hoikuen bahkan sering juga main di sekitar hoikuen dengan temannya, tapi mungkin aturannya anak sesusia Azka belum diizinkan untuk menjemput adiknya. “kami antar saja ya…” jawaban enchou sensei. Ya sudah dengan senang hati, saya tidak berdaya menolaknya :) . Saya pikir sensei part time atau sensei lain yang bakal nganter ternyata enchou sensei sendiri yang mengantar Aufa sampai rumah. “Terima kasih enchou sensei, maaf merepothkan.” ucap saya sambil masih menggigil dengan muka lebam. “Tidak apa-apa? semoga cepat sembuh ya….”. Enchou sensei langsung kembali ke hoikuen.

Tinggal Aufa yang kebingungan,” bunda…doshita no?”…aah..hitori de kaeru to omotta… (bunda kenapa?…aah…kirain disuruh pulang sendiri) gumam Aufa dengan ekspresi lega. Maaf ya Aufa….

Makan kue yang enak itu dimakan dari pinggirnya dulu. Kalau sudah habis semua pinggirnya simpan di meja terus ambil lagi kue yang baru.

 Kalau Athif lagi sehat sih gak apa-apa. Tapi kalau lagi influenza…mubadzir dek….Bunda ngga berani ngabisin. Kakak sama onichan apalagi, biar Athif lagi sehat, kalau kue bekas gigitan Athif gini gak akan mau….

Judul yg sekarang baru nyambung dengan isinya. Sebenarnya sejak bulan Juli lalu pengen nulis tentang ini. Tapi terpaksa disimpan dulu dalam hati. Ehm…waktu itu saya terharu dengan isi email seorang teman yang salah satu baris kalimatnya mendoakan saya yg sedang dianugrahi amanah lagi. Bagaimana tidak terharu, waktu itu saya sedang payah-payahnya mabuk karena hamil muda. Orang Jepang menyebutnya Tsuwari. Semua jenis makanan tidak ada yg bisa mengugah nafsu makan saya. Seandainya adapun paling hanya sebatas keinginan, setelah di depan mata tetap saja susah masuk ke tenggorokan. Satu-satunya yg bisa sedikit mengobati rasa mual yaitu lemon tea (sekarang sudah tidak terlalu suka, tapi jadinya Athif yg tergila-gila dengan lemon tea). Yang lainnya saya paksakan makan meskipun cuma sedikit. Jadi wajar kalau selama 4 bulan pertama berat badan saya bisa turun sampai 5 kg. Ups…sebenarnya saya tidak berniat menceritakan kehamilan saya. Sesuai judul saya mau menulis tentang amanah. Kembali lagi ke teman yg mendoakan saya tadi, beliau sendiri sebenarnya punya amanah juga, yang bagi saya berat untuk menjalaninya, amanah sebagai seorang pelajar. Ya..setiap orang punya amanah masing-masing, yang Allah bebankan kepada setiap orang sesuai dengan kesanggupannya. Saya jadi teringat seoarang teman yang baru saja kehilangan ‘amanah’ yang baru beberapa minggu dikandungnya. Tapi bagi saya ini rahasia Allah, bukan berarti beliau dianggap belum sanggup atau belum dipercaya. Biasanya orang Indonesia, orang Sunda mungkin tepatnya, sering mengatakan “teu acan dipercanten” (belum dipercaya) kalau ada yang belum juga diberi momongan. Lagi pula sudah diberi ‘amanah’ ataupun belum, dua-duanya ada ujian didalamnya. Perlu rasa syukur dan sabar juga dua-duanya. Kalau kasus saya yang belum diamanahi anak perempuan :) , apakah berarti saya belum dipercaya untuk mendapat anak perempuan. Mungkin saya lebih pas jadi wanita perkasa dibalik suksesnya laki-laki hehehe….

Bersyukurlah bagi mereka yang dianugrahi amanah sesuai dengan harapannya. Ingin cepat punya momongan, bisa cepat punya momongan. Ingin meneruskan sekolah sampai S3 bisa terlaksana. Ingin bekerja sesuai ilmu yang ditekuni bisa tercapai.

Tetapi amanah tetap amanah, semuanya adalah titipan dari Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban-Nya. Sudahkah amanah ini kita jaga atau kita jalankan sesuai dengan tuntunan-Nya. Glukk….kalau sudah ingat ini, amanah ternyata sesuatu yang sangat beratt, bukan sesuatu yang pantas kita bangga-banggakan.

Hmm…sudah lama ternyata  ngga pernah nulis di blog lagi. Sejak memproklamirkan diri kalau sedang mabuk berat, awal Juni tepatnya mungkin ya…lupaa, karena terlalu lamanya. Padahal sejak pertengahan Agustus, alhamdulillah sedikit demi sedikit rasa mual sudah hilang, nafsu makan pulih lagi. Tapi ritme biologis masih belum berubah.  Waktu tidur masih bersaing dengan waktu tidur Athif. 

Banyak sekali sebenarnya cerita yang sayang untuk tidak ditulis, celoteh anak-anak terutama. Jadi…harap maklum kalau yang ditulis sekarang ceritanya waktu musim panas yang sudah berlalu. Sekarang mau istirahat dulu ah…cuma mau pemanasan nulis.  Mumpung ada yang nemenin Athif tidur. Tapi ternyata mata masih belum bisa diajak kompromi untuk begadang, zzzzz……..

Kyou wa gyouji shoku da yo ne..” kata Azka. ” Onigiri mo OK“. Itu Azka bilang pagi-pagi waktu bunda sedang menyiapkan bento untuk Azka dan Ayahnya. ” Kondate otayori ni aru da yo“. Oh ya…tapi dicek di selebaran menu ngga ada. Tapi rasanya lupa-lupa ingat. Hari ini sebenarnya hari pengganti  ensoku (piknik) kalau pada hari sebelumnya ternyata hujan. Jadi menu yang sudah ditetapkan hari itu tidak berlaku karena harus bawa bento. Bunda sudah siap memasak niku jaga kesukaan Azka. Selain itu bunda bawakan juga butter roll yang tertulis di menu sekolah hari ini. Karena butter roll yang disediakan sekolah mengandung bahan dari babi, jadi setiap ada menu roti selalu bawa dari rumah.
Setelah bento siap, bunda baru memeriksa tas Azka. Baru ingat kalau belum membaca renraku cho (buku penghubung). Ternyata di situ tertulis,” Asu wa gyouji shoku onigiri o motekitemo yoi“. Gubrakk…tapi sudahlah lah, sudah jadi kok bentonya. Lagipula kalau onigiri saja boleh apalagi lebih dari itu.

Tapi, roti butter roll itu sengaja pesan minta dibelikan Ayah kemarin sorenya. Butter roll yg bisa kami konsumsi itu dijual di JUSCO. Kebetulan biasa dilewati setiap pergi dan pulang kerja. Ternyata untuk membeli butter roll malam itu penuh perjuangan. Ayah harus berjalan kira-kira 20 menit untuk sampai ke JUSCO. Sampai-sampai beliau bersenandung ” Demiii… sebuah roti…aku jalan jauuuh… sekali” dan direkam di HPnya ( padahal sih ketinggalan bis terakhir….ngga beli roti juga kudu jalan :-P ).  O,ya rekaman senandungnya dijadikan alarm pagi itu. Pagi-pagi waktu alarm berbunyi, Azka mendengar suara alarm aneh itu terbangun dan membangunkan ayahnya, “Ayah…Ayah…bangun! ada obake!…”.  :-)

Pulang sekolah Azka cerita. Waktu makan siang, teman-temannya yang melihat bento Azka bilang,” ii…naa…(ih…asiik euuy….terjemahan bebas red.)”.  Soalnya teman-temanya cuma bawa onigiri. Azka sendiri yang salah bawa bento sesuai menu hari itu.

  • Kyou wa gyouji shoku da yo ne = hari ini gyouji shoku (pasnya diterjemahkan apa ya?)
  • Onigiri mo OK = onigiri saja juga boleh
  • Kondate otayori ni aru da yo = Di selebaran (terjemahan bebas juga) menu ada kok.
  • Obake = hantu

Akhirnya Aufa bisa juga naik sepeda roda dua. Ini cerita ayahnya yang melatih Aufa naik sepeda. Awalnya Aufa ngga PD, bilang ” dekinai…dekinai…(ngga bisa…ngga bisa…). Ternyata tidak perlu waktu lama, Aufa sudah bisa dilepas. Malah langsung menggenjot sepeda dengan cepatnya. Ayahnya mengingatkan supaya jalan pelan-pelan. Aufa malah menimpali sambil tetap memacu sepeda,” Ngga bisaaa kalau ngga ngebuuut…!

Tadinya ngga percaya, tapi  setelah melihat sendiri baru percaya. Dan memang benar ngga bisa pelan jalannya (Padahal sebenarnya belum bisa mengontrol kecepatan sepeda).

mobil Athif

Maaf ya Athif…Athif sendiri yang bilang ini  kuruma (mobil).  Sampai-sampai Kakak & Oniichan ngga boleh pake mobil Athif.  Tiap mau naek mobil ini pasti cari topi dulu. Kalau udah siap baru naik. Karena sayangnya Athif dengan mobilnya. Ayah bela-belain membetulkan lagi bagian yang robek-robek.  Mobil ini sampai sekarang masih ada. Ada yang mau pinjam?

Minggu kemarin kami menikmati Golden Week. Disebut Golden Week karena selama seminggu sejak tgl 29 April sampai 5 Mei (kecuali tangal 1 dan 2) di Jepang merupakan hari libur Nasional. Enaknya buat ibu-ibu sepertiku bisa bebas dari masak bento pagi-pagi. Bisa pergi ke sana ke mari sekeluarga. Seperti juga hanami akhir Maret kemarin, Golden Week kali ini sepertinya GW kami yang terakhir, karena insya Allah tahun depan kami akan kembali ke tanah air. Jadi kami tidak sia-siakan kesempatan liburan ini. Ada yang ngajak ke bazaar hayuu,  ke tabligh akbar AA Gym tentu saja mau, bbq-an juga ok. Tapi karena sibuk jalan-jalan, hasilnya beres-beres rumah ngga pernah tuntas. Selain itu cucian baju di rumah jadi ada tiga jenis, cucian yang baru dijemur, cucian yang sedang diaduk di mesin cuci, cucian yang lagi antri buat dicuci. Kalau mau ditambah, masih ada lagi cucian di kamar mandi yang harus dibersihkan dari lumpur dan pasir (karena hari Minggu hujan dan waktu hujan reda anak-anak langusng main di luar). Belum lagi cucian yang selesai dijemur dan belum dilipat. Masih ada lagi ding, yang belum disetrika. Tapi biar begitu tetap menyenangkan kok GW kemarin ….(pssst..kali nggak diajak jalan-jalan lagi)

Next Page »